Kamis, 05 September 2013

Penganut Yang Mencapai Taoisme


Hou Dao Hua, adalah seorang penganut Tao (Taoisme), yang berasal dari Gunung Emei, kemudian mengembara hingga tiba di padepokan Tao, Yong Le Guan Zhong dan menetap di sana. 
Pada suatu hari, terjadi angin topan, bangunan di Guan Zhong pada roboh tertiup topan, Taoisme lainnya meninggalkan Yong Le Guan dan pergi ke padepokan Tao yang lain, hanya Hou Dao Hua yang tetap tinggal di sana, dengan pengalaman yang tak terperikan, akhirnya berhasil memperbaiki tempat itu yang rusak. Dao Hua sangat ramah dan rendah hati.

Setiap Taoisme atau wisatawan yang datang ke Guan Zhong, ia sambut dengan hangat dan ramah. Banyak sekali orang yang menganggap Dao Hua bagaikan abdi suruhan, namun Dao Hua tetap melayaninya dengan senyuman, tidak mempermasalahkan sikap orang lain. Dao Hua suka membaca buku, acap kali membaca dengan suara nyaring dan keras. Suatu kali ada yang bertanya kepadanya untuk apa belajar? Dia menjawabnya, "Di atas dunia tidak ada dewa yang buta pengetahuan". 

Dalam sekilas puluhan tahun telah berlalu, pada suatu hari, dari atas tiang istana di Guan Zhong tiba-tiba keluar cahaya berwarna, semua Taoisme banyak yang menyatakan aneh. Dan lagi di suatu hari, ketika Dao Hua naik ke atas tiang untuk memperbaiki, kemudian terlihat lagi cahaya seperti yang dilihat sebelumnya. 

Dao Hua berusaha mencari dengan seksama, akhirnya menemukan sebuah kotak kecil, dan cahaya memang berasal dari kotak kecil tersebut. Dao Hua lalu membuka kotak kayu itu, dan menemukan di dalamnya masih terdapat sebuah kotak kayu yang telah disepuh dengan emas, setelah dibuka menemukan beberapa obat. Dao Hua berpikir bahwa ini mungkin adalah obat peninggalan Liu Tian Shi seperti yang dikatakan orang. Lantas, obat itu dimakannya.

Paginya setelah 7 hari, Dao Hua bangun tidur, mandi dan berhias diri, kemudian di depan kelenteng membakar dupa, memandangi langit memberi penghormatan, dan berkata, "Tidak lama lagi akan ada dewa yang datang menjemputku naik ke langit." 

Semua orang menganggap perkataannya adalah omongan gila. Namun tidak lama kemudian, tampak di atas pohon pinus depan Guan Zhong ada burung bangau berputar-putar, serta terdengar alunan musik kayangan, Dao Hua tiba-tiba membubung ke angkasa, terbang ke atas pohon, dan duduk bersila, serta cukup lama tidak bergerak. 

Semua orang yang melihatnya baru mengetahui bahwa Dao Hua benar-benar telah menjadi dewa, dan dengan segera memberi penghormatan perpisahan kepada Dao Hua. Dao Hua juga melambaikan tangan kepada semua orang mengucapkan terima kasih, kemudian duduk di awan dan melayang naik ke angkasa di tengah alunan musik kayangan. 

Dalam Taoisme, Buddhisme dan legenda rakyat Tiongkok, banyak sekali kisah latihan kultivasi yang mencapai kesempurnaan. Membubung ke langit pada siang hari adalah semacam bentuk kesempurnaan. Saat melayang terbang, tidak peduli apakah dengan menggunakan bangau, naga, atau awan, semuanya begitu indah dan sangat luar biasa.

Kultivasi Tao


Dari dulu sampai sekarang, banyak orang yang mencari dewa menanyakan Tao ( Jalan keTuhanan ), dengan silih berganti. Beberapa orang mampu mendapat Tao dan menjadi dewa, hidup kekal abadi.

Pahit atau manis rasanya hanyalah orang yang berkultivasi Tao sendiri yang mengerti, bukan orang lain. Sambung-menyambung dalam lima ribu tahun budaya Tionghoa, banyak orang berhasil berkultivasi mendapat Tao.
Bo Shan Fu adalah orang Gu Yong Zhou. Beliau berkonsentrasi menempa diri di Hua Shan, berlatih Tao. Ia sering pulang kampung mengunjungi kerabat dan kawan-kawan. Beliau hidup selama dua ratus tahun, wajahnya tetap muda.

Setiap kali Bo Shan Fu pulang kampung, ada satu keluarga yang selalu diperhatikan, yang berkaitan dengan perbuatan yang baik ( kebajikan ) ataupun karma jahat (dosa) yang dibuatnya. Bo Shan Fu akrab sekali dengan mereka, sepertinya memiliki hubungan dengan keluarga ini. Beliau dapat meramalkan masa depan keberuntungannya atau kesusahannya, tak ada yang tidak menjadi kenyataan.
Kemenakan perempuan Bo Shan Fu sudah berumur delapan puluh tahun, telah lanjut usia dan banyak penyakit. Saat Bo Shan Fu pulang mudik memberi beberapa obat dewa untuk kemenakannya, tanpa ragu sedikit pun ia menelan obat dewa tersebut, segera wajahnya berubah menjadi muda lagi, seperti bunga persik. Pada satu kali saat Kaisar Han mengutus utusan pergi ke He Dong, tiba-tiba melihat di kota sebelah barat ada seorang wanita sedang memukul orang yang sudah tua. Kakek itu membisu dengan kepala tertunduk menerima hukuman. Utusan itu merasa sangat aneh, beliau mendekati lalu bertanya apa yang terjadi. Wanita itu berkata, "Laki-laki tua ini adalah anak saya, dulu paman memberikan obat dewa.

Saya suruh ia makan tapi tidak dituruti, mengira saya akan meracuni dia, kini sudah tua seperti ini, jalan pun tak dapat mengejar saya, oleh karena itu barulah saya menghajarnya."Utusan itu bertanya pada wanita dan anaknya, mereka sudah berapa usianya. Wanita itu menjawab, "Saya sudah berumur dua ratus tiga puluh tahun, sementara anak saya baru saja berumur delapan puluh tahun." Selanjutnya wanita ini juga pergi ke Hua Shan Xiu Dau

Zhuang Zi, Boddidarma Utama Taoisme Bersama Lao Zi

  Zhuang Zi, Boddidarma Utama Taoisme Bersama Lao Zi


Zhuang Zi (莊子) 369-286 SM atau Chuang Tse, pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah yang menonjol selama hidupnya. Namun, untuk waktu singkat, dia adalah seorang pejabat kecil di kampung halamannya. Dia pernah ditawari posisi perdana menteri oleh raja suatu negara, tapi dia menolaknya.


Zhuang Zi, daripada memperdagangkan kebebasannya untuk berperan sebagai seorang pejabat pemerintah, lebih baik menjadi kura-kura ilahi yang menjual kulitnya untuk disembah.


Karena melihat dari sesuatu yang  eksentrik , Zhuang Zi menjalani kehidupan yang sangat miskin tapi tidak pernah pesimis. Dia menjaga jarak dari para pejabat pemerintah yang menikmati kemewahan, dan ia tidak memiliki ketidaknyamanan dengan pakaian ditambal, mangkok nasi yang kosong, atau bahkan kadang-kadang hidup atas kebaikan orang lain.


Dia menganjurkan pencerahan melalui melepaskan kekhawatiran duniawi dan mengikuti jalan  Tao. Ia dikenal  sebagai Boddidarma utama ajaran Tao bersama dengan Lao Zi.


Karena ajaranTao tidak mengejar ketenaran, kekayaan, atau karier, atau ketertarikan pada pengakuan publik, sedikit yang diketahui dari kehidupan Zhuang Zi. Namun, buku yang mencantumkan  namanya, "Zhuang Zi" (juga dikenal sebagai "The Classic Murni Nan-hua"), selama generasi itu telah banyak dikagumi , dan telah mendorong ribuan penelitian dan interprestasi literatur.


Diakui sebagai orang bijak dan imajinatif, Zhuang Zi menggunakan banyak kiasan dan sindiran lucu dalam tulisan-tulisannya. Dia percaya bahwa alam harus dibiarkan tidak terganggu, dan  manusia harus berusaha untuk menjadi selaras dengan lingkungan.


“Zhuang Zi telah menarik banyak orang dari lapisan masyarakat luas, dan penulis filsafat (philosophy) telah menemukan pengaruh yang mendalam terhadap kehidupan sehari-hari. Bukunya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia.


Pada diri "Zhuang Zi", ia mencerminkankan efek negatif sebagai apa yang disebut peradaban, dan mengekspresikannya sebagai aspirasi kebebasan spiritual. Istilah ini kemudian dianut di leteratur duniawi dan karya seni visual. Dia menganjurkan bebas dari keterikatan duniawi, dan  sangat bertolak belakang terhadap orang-orang yang mengejar kemuliaan diniawi atau kesenangan materi.  


Zhuang Zi percaya bahwa kesuksesan terbesar di masyarakat yaitu “berbuat tanpa melakukan, mengatur dengan tidak menggerakkan apapun (wu-wei).” Ini mendorong tindakan yang sangat sempurna bahwa segala sesuatu mengikuti secara wajar,  dan tidak ada jejak yang nyata dari pengarang; dan itu sepenuhnya selaras dari sifat hati dari dunia Tao.


Oleh karena itu di dalam masyarakat, penguasa harus memerintah tanpa intervensi yang disengaja. Tanpa tekanan dari penguasa, setiap orang mengikuti hatinya dengan kebebasan spiritualnya dan masyarakat  akan berjalan dengan harmois.


Tidak seperti institusi ajaran Kongfucu, yang berkenaan dengan tanggung jawab social pengikutnya,  filsafat Zhuang Zi  lebih memfokuskan pada kehidupan pribadi seseorang serta kebijaksanaan spiritual. Kemudian banyak intelektual Tionghoa berpaling pada filsafat ini dalam turbulensi  perubahan dinasti. (EpochTimes)

sumber

Watak dan Cara Hidup Lao Zhi


Konon, watak dan cara hidup Laozi (老子) memang luar biasa. Menurut catatan sejarah (Shi Ji), Laozi dikatakan dapat hidup sehingga 160 tahun, malah juga dikatakan lebih dari 200 tahun. 

Hal ini disebabkan karena beliau pandai mengendalikan latihan tenaga dalam dan memupuk sikap hidup yang santai sehingga kesehatannya terjaga dengan baik. 

Cerita tentang umurnya yang begitu panjang mungkin sudah dibesar-besarkan, tetapi Laozi memang sudah terbukti pandai menjaga kesehatan dan dari cara hidupnya dilihat memang memungkinkan untuk mengekalkan umur yang panjang. 

Ada legenda yang memberikan gambaran yang hidup tentang Laozi ketika berusia 50-an, yaitu menunggang lembu yang berwarna hijau, memakai jubah yang berwarna kuning muda dan tali pinggang berwarna putih, dengan wajah matang, alis dan rambutnya sudah menjadi putih. Imej peumpamaan itu seperti seorang Dewa panjang umur,  jika mengikut cerita-cerita yang dikisahkan dalam kesusasteraan tradisi China. 

Pada zaman Dinasti Sui, terdapat seorang penganut agama Tao yang bernama Wang Zhiyuan yang meramalkan bahwa Dinasti Sui akan digantikan dengan Dinasti Tang.  Memandangkan nama keluarga bakal raja pertama Dinasti Tang itu bermarga Li,  yaitu Li Yuan, maka Wang Zhiyuan pun mulai memuji dan mengampuh Li Yuan dengan menceritakan bahawa pengasas ajaran Tao adalah Li Er, untuk menunjukkan bahwa mereka berdua mempunyai nama keluarga yang sama, iaitu Li. 

Pada tahun 617 Masehi, Li Yuan telah membawa tenteranya untuk menyerang Huoshan, tetapi tergendala akibat hujan lebat yang turun tanpa berhenti. Setelah mendengar berita itu, Wang Zhiyuan pun mengatur seorang "Utusan Dewa Baiyi" untuk memberitahu Li Yuan tentang tarikh hujan akan berhenti, malah laluan yang patut diikutinya untuk melancarkan serangan. 

Tidak lama setelah itu, Li Yuan mencapai kemenangan besar dengan bantuannya itu, Wang Zhiyuan segera menyebarkan sebuah kabar yang katanya diperolehi daripada seorang Dewa Yaitu, "Kau akan menerusi negara ini pada masa depan." 

Dengan demikian, Li Yuan dan anak-anaknya turut menjadi raja seorang demi seorang, mereka bersama-sama menyembah Laozi sebagai nenek moyang bagi keluarga mereka. 
 
Pada tahun 666 Masehi, Raja Gaozong mengeluarkan titiah untuk memberikan gelaran "Raja Tai Shang Xuan Yuan" kepada mendiang Laozi. Di samping itu, baginda juga mengeluarkan perintah supaya agama Tao diberi kedudukan yang lebih tinggi daripada agama Buddha.

Pada tahun 674 Masehi, Ratu Wuzetian pula menitahkan supaya kitab "Tao Te Ching", "Kitab Xiao" (ajaran tentang bersopan santun dan berbudi bahasa kepada ibu bapa) serta "Lun Yu" (sebuah karya yang terkenal yang dihasilkan oleh Konfusius) menjadi subjek yang digunakan dalam ujian untuk memilih calon pegawai. 

Selepas itu, Raja Ruizong juga membuat keputusan untuk menjadikan dua orang puterinya biarawati agama Tao, lalu menitahkan supaya dibina dua biara yang megah, iaitu Jinxian dan Yuzhen untuk didiami oleh mereka.

Pada tahun 733, Raja Xuanzong menitahkan supaya setiap keluarga mesti memiliki kitab "Tao Te Ching". Baginda menghasilkan penjelasan yang terperinci terhadap setiap ayat dalam kitab tersebut sebagai tanda menghormati ajaran Tao. 

10 tahun selepas itu, baginda menitahkan untuk memberikan gelaran yang lebih tinggi kepada Laozi, iaitu "Maharaja Sheng Zu Xuan Yuan" dan sebagainya. Kedudukan Laozi dan agama Tao ditingkatkan ke satu tahap yang begitu tinggi yang tidak pernah ada sebelum itu. 

Pada hakikatnya, perintah dan tindakan seumpama itu yang dilaksanakan oleh pihak berkuasa pada masa itu hanyalah bertujuan untuk membodohkan rakyat dan melemaskan pemikiran mereka supaya dapat mengukuhkan pemerintahan masing-masing. 
sumber 

Rabu, 04 September 2013

Manusia Manunggal Dengan Tuhannya


“Manusia manunggal dengan Tuhannya”, merupakan konsepsi orang Tiongkok kuno, namun zaman sekarang tidak banyak yang benar-benar memahami makna kata tersebut.

Aliran Taoisme (ajaran dari Laotse abad ke-6 SM yang menganjurkan bertindak sesuai alam, dan bukan melawannya) berpendapat: tubuh manusia merupakan sebuah alam semesta kecil.
 
Dengan kata lain, satu per satu tubuh manusia adalah selaras dengan alam semesta, di dalam alam semesta terdapat apa, maka di dalam tubuh manusia juga terdapat padanannya. Tubuh manusia merupakan miniatur alam semesta. Ini kedengarannya sangat misterius, sebenarnya tidak juga.

Dirasakan misterius, lantaran manusia tidak memahaminya lantas merasa dalamnya makna tersebut tak terukur dan tak mampu mengenalinya. Tidak misterius, dikarenakan setelah Anda memahami dan menjalani Tao (harafiah: jalan, jalan spiritual menuju kesempurnaan), segala sesuatunya akan tercerahkan.

Seorang arif bijaksana mengatakan, mengetahui satu kebenaran ribuan fenomena pun tercerahkan. Alam semesta saling terkait berkat satu Tao.

Oleh karena tubuh manusia adalah sebuah alam semesta kecil, dan satu per satu darinya berpadanan dengan maha alam semesta. Selanjutnya, di bawah ini, penulis berdasarkan tubuh manusia sebagai contoh, yakni berdasarkan ilmu tubuh manusia modern, untuk membahas hukum alam semesta. Yakni dengan mengungkap Tao yang berpadanan dengan tubuh manusia.

Agar memudahkan pemahaman, penulis berdiri pada sudut pandang ilmu biologi, lebih dahulu membahas prinsip mekanisme struktur tubuh manusia, lalu membahas mekanisme alam semesta yang berpadanan dengan struktur ini yakni hukum alam semesta yang saling berpadanan.

Kebanyakan orang pernah membaca kalimat ini: “Manusia manunggal dengan Tuhan-nya (harafiah: manusia menyatu dengan Langit).” Namun yang benar-benar memahaminya barangkali tidak seberapa banyak.

Apa yang disebut dengan “bergabung, terkatup” (aksara mandarin: 合 dibaca: He)? Anda mengambil sebuah tutup berbentuk persegi dan ditutupkan di atas botol dengan bentuk bulat, apakah bisa tergabung? Jelas tidak bisa.

Maka agar bisa terkatup, harus memenuhi syarat apa?

Tergabung harus bisa berpadanan, yakni harus memiliki titik-titik perpaduan, dan titik itu harus bisa satu per satu berpadanan dan tersambung, barulah dapat disebut sebagai tergabung.

Sedangkan tergabung menjadi satu, aksara mandarin, 合一 (dibaca: He Yi), maka persyaratan yang dipenuhi harus lebih tinggi. Maka ia harus terkatup dengan sempurna, yakni kedua benda tersebut nyaris berpadanan atau berselaras dengan sempurna, juga seluruh titik perpaduan harus satu per satu cocok, terhubung dan tersambung, maka barulah bisa menggabungkan dua benda menjadi satu.

Mengingat orang zaman kuno telah mengusulkan konsepsi Manusia manunggal dengan Tuhannya, lagi pula orang-orang kuno ada yang pernah mencapai taraf tersebut bukankah itu bermakna bahwa tubuh manusia memenuhi persyaratan manunggal dengan Tuhan?

Karena memenuhi persyaratan manunggal dengan Langit, maka tubuh manusia dengan tubuh langit harus berpadanan, bisa satu per satu dipadukan, itulah mengapa Taoisme mengatakan, Tubuh manusia merupakan sebuah alam semesta kecil.

Maka itu wajar bila Taoisme beranggapan bahwa manusia terlahir dari saripati dan energi langit dan bumi (alam semesta) dan merupakan jiwa terkemuka dari segala makhluk bumi. 


Sejak zaman dahulu kala, di alam jagad raya juga barulah umat manusia yang mampu berkultivasi memperoleh buah sejati (kesempurnaan yang telah dicapai melalui kultivasi atau penempaan diri melalui perombakan sifat-jiwa), dan memperoleh Tao sejati. Karena tubuh manusia adalah yang paling sempurna dan ia memiliki semua unsur berpadanan di dalam alam semesta.
sumber 

Diatas Langit dan Dibawah Langit, Penghormatan Adalah Pada Tao

Dahulu, dimasa Kaisar Han Wen Ti, beliau terkenal akan sifatnya yang hormat, hemat, moralitas, bakti, rajin dan mencintai rakyat. Setiap hari setelah selesai mengatur negara, kaisar selalu membina diri, dan sering membaca kitab Suci Tao Tek Cing.

Namun walau sudah begitu lama membacanya, tapi dia masih tidak mengerti. Thai Sang lao Cin tergugah hatinya, sehingga berubah menjadi seorang tua di tepi sungai membangun sebuah gubuk, dan menyebut dirinya Kakek sungai dan bermaksud menjelaskan makna kitab suci Tao Tek Cing.


Setelah Kaisar mendengar kejadian ini, dia meminta pejabatnya untuk menanyakan makna Kitab Suci Tao Tek Cing padanya. Kakek sungai menjawab, “Tao sangatlah mulia, kebajikan amat berharga, bukan dengan numpang tanya sudah bisa mengerti!” Pejabat itu pulang kembali dan menjelaskan kejadian ini pada Kaisar.

Kaisar kemudian pergi sendiri untuk bertanya pada kakek itu. Kakek sungai sama sekali tidak mau membuka mata melihatnya, dan tetap duduk tak bergerak, bahkan tak membalas penghormatan Kaisar.

Kaisar menjadi amat marah dan dalam hati berkata, “Tao Tek Cing mengatakan, Tao Agung, Langit Agung, Bumi Agung, Raja Agung, semuanya ada 4 besar, dan Raja adalah salah satunya.” Walaupun kamu memiliki Tao, namun di sini kamu masih adalah rakyatku, untuk apa menyombongkan diri?” Kakek sungai mengerti akan suara hati Kaisar.
 

Saat itu, kakek tersebut lalu berdiri dan terbang naik 100 m diatas tanah, lalu menengok kebawah dan berkata, “Sekarang saya diatas bukan dilangit, dibawah bukan dibumi, mana bisa disebut lagi sebagai rakyatmu ?” terdengar suaranya yang membahana dan menggetarkan langit!

Kaisar segera menyesal akan kata-katanya tadi, dan menghormat untuk memohon pengampunan atas kesalahannya. Kakek sungai bukan saja tidak mempersoalkan kesalahannya, bahkan menjelaskan makna Tao Tek Cing padanya, namun tidak menyampaikan dharma hati sanubari kepadanya.


Sangat disayangkan, “Kebijaksanaan” yang sangat dihormat dan berharga, langit dan bumi tiada tandingannya, tapi pada saat berhadapan dengan orang bijak, menjadi biasa !

Oleh karena itu, walaupun Kaisar Wen Ti sebagai putra langit, tapi ketika bertemu dengan Guru bijak, sehingga berbuat kesalahan. Hal ini karena hatinya tidak bisa tulus dan belum sempurna, sehingga tidak mendapatkan Tao sejati. Bertemu seperti tidak menemuinya !

Jumat, 23 Agustus 2013

Inilah Konsep Terbaru Kostum Iron Man Selanjutnya Serta Musuh Baru Nya

Inilah Konsep Terbaru Kostum Iron Man Selanjutnya Serta Musuh Baru Nya

Siapa yang tidak kenal Iron-Man?? Pasti semua mengenal tokoh super hero dengan baju besinya ini.

Iron Man memang dikenal dengan design kostum atau alat tempur yang futuristik dilengkapi dengan senjata canggih, setelah keluar beberapa Film Iron Man kini kabarnya seorang perancang kostum Iron Man membocorkan bagaimana design Iron Man selanjutnya.

Phil Saunders, merancang kostum Iron Man untuk film berikutnya dengan beberapa desain mutakhir untuk kostum Tony Stak. Kostum karya Phil masih di dominasi warna utama Iron Man dengan Warna Merah di lengkapi denga laser di tangan nya.

Bukan hanya konsep terbaru kostum Iron Man, Perancang juga memperkenalkan siapa lawan Selanjutnya dari Iron man.

Cek